Adakami.id-  Kondisi pasca pandemic Covid-19, tidak menghalangi bisnis di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk terus menciptakan inovasi baik dalam pengembangan produk maupun pelayanan digital.

Dalam rangka membangun terus semangat para pengusaha UMKM dalam mengembangkan inovasi, AdaKami bersama CARInih dan KompasTV di Smesco Indonesia menggelar acara CARIpreneur pada Selasa (29/11/2022).

AdaKami yang diwakili oleh Jonathan Kriss, menggaet Ligwina Hananto – CEO & Lead Financial Trainer QM Financial menjadi pembicara dalam acara Workshop: Content Creator & Financial Literacy”. Kedua pembicara menyampaikan materi tentang “Memaksimalkan Kredit untuk Modal Usaha UMKM”.

Di acara tersebut, Jonathan Kriss menjelaskan bisnis peer to peer lending sebagai bentuk lain dari koperasi dan mampu menjadi solusi pendanaan bagi pelaku UMKM, sedangkan Ligwina membahas pemahaman dasar tentang mengatur keuangan usaha dan tips untuk mempersiapkan bisnis agar naik kelas dan mampu bertahan.

“Jika dulu masyarakat banyak mendapatkan uang pinjaman usaha di koperasi secara manual, kini teknologi digital semakin berkembang dan menghadirkan aplikasi peer to peer lending. Aplikasi ini memudahkan bapak ibu untuk mendapatkan kredit,” ujar Jonathan.

Jonathan juga memaparkan tingginya tingkat pengguna yang memimjam uang untuk modal usaha.

Hal itu membuktikan jika mulai banyak orang yang berinovasi mengembangkan bisnis UMKM.

“Ketika 2020, April sampai Agustus, sekitar 40 persen pengguna Adakami justru banyak meminjam uang untuk modal usaha. Lalu pada 2022, angkanya bertumbuh menjadi sekitar 50 persen,” papar Jonathan.

Sebagai seorang financial planner, Ligwina Hananto juga menyampaikan bahwa pinjaman untuk usaha seperti hutang tidak selalu buruk.

“Lalu kapan waktu yang tepat untuk melakukan pinjaman modal? Nah, untuk hal ini, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu jika modal tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok bisnis, bisnis berpotensi bangkrut, ekspansi bisnis, atau untuk kebutuhan investasi aset atau properti,” ujar perempuan yang akrab Wina ini.

Selain itu, Ligwina juga menekankan perlunya memaksimalkan dana pinjaman untuk modal usaha.

“Ketika meminjam uang, kita perlu memaksimalkan dana yang dipinjam, mengenali tujuan meminjam dana, lalu menentukan strategi,” tambahnya.

Pasalnya, jika peminjaman uang untuk modal usaha tidak dimaksimalkan, hal itu akan berdampak pada buruknya kondisi keuangan.

Buruknya kondisi keuangan inilah yang nanti akan memicu masalah baru.

Demikian tadi beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika memutuskan pendanaan usaha lewat peer to peer lending menurut Jonathan Kriss dan Ligwina Hananto. (*)